Belajar Menjadi Pemimpin dari Sa’id bin Amir Al-jamhi

Suatu hari, Umar menerima serombongan kaum yang mengadukan gubernurnya, Sa’id bin Amir Al-jamhi, mereka membawa 3 laporan tentang cela gubernur tersebut. Pertama, Sa’id baru menemui umat setelah matahari tinggi. Kedua, Sa’id tak mau melayani umat diwaktu malam. Ketiga, setiap bulan Sa’id menghilang satu hari, sehingga orang tidak dapat melihatnya dan susahlah untuk dapat menemuinya sehari penuh itu.
Mendengar laporan itu, Umar segera memanggil Sa’id. Dihadapan Umar, Sa’id bertanya, “Ada apa wahai Amirul Mukminin, sehingga aku dipanggil untuk segera menghadap?”. “Wahai Sa’id, biarlah mereka berbicara mengadukan dirimu, dan jawablah pengaduan mereka dihadapanku”. Kata Umar
sambil menunjuk orang-orang yang mengadukan Sa’id itu. “Bicaralah!” perintah Umar kepada mereka. Setelah mereka mengatakan 3 hal mengenai Sa’id, Umar meminta Sa’id untuk menjawab. “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, ketahuilah jika tidak dihadapanmu dan dalam urusan seperti mereka adukan itu aku tak mau menjawab dan biarlah ini menjadi rahasiaku dengan Tuhanku”.
Yang Pertama, hal itu aku lakukan karena, keluargaku tidak mempunyai pembantu, sehingga aku harus membantu mereka menumbuk tepung. Kemudian saya duduk menunggu berkembangnya adonan, barulah saya membuat roti. Setelah semuanya selesai baru aku berwudhu kemudian menemui mereka. Umar bin Khattab berseri-seri, bahwa gubernur pilihannya adalah orang yang tepat.
Kedua, “Demi Allah, sebenarnya yang inipun aku tak mau menyebut-nyebutnya kalaulah keadaan tidak memaksaku seperti ini. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa mereka telah aku berikan waktuku di siang hari. Maka waktu malamku, aku khususkan untuk Tuhanku”.
Ketiga, “Sesungguhnya di rumahku tak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku. Sehingga, sehari setiap bulan itu, aku mencuci pakaianku sendiri dan menungguinya sampai kering hingga aku memakainya lagi”.
“Alhamdulillah”, seru umar, “Aku tak keliru dalam memilih pejabat yang membantuku”. Itulah profil pejabat Umar yang bersih… bersih seperti kapas.
Seorang gubernur, pejabat tinggi yang begitu bersahaja, jujur dan amanah… apa yang dilakukan Sa’id adalah pintu berkah.
Berkaca pada kisah Sa’id, seorang yang memegang jabatan, sesungguhnya ia memegang amanah, kewajiban dasar bagi setiap manusia. Bukankah setiap dari kita dikatakan Nabi sebagai orang yang memegang amanah? Seorang istri menjaga amanah kesuciannya. Seorang suami menjaga amanah kepemimpinan rumah tangganya. Setiap pembantu memegang amanah Semua harta majikannya. Dan setiap kita adalah penjaga amanah kehambaan kita yang harus mengabdi kepada-Nya.
Amanah kepada Tuhan
Sa’id telah menyediakan malamnya hanya untuk Tuhannya. Ini memberikan teladan yang sangat indah, bahwa setiap kita harus mengingat hak Allah, sehingga Allah akan memberikan hak kepada kita.
Amanah kepada pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Sesungguhnya nilai kita dimata manusia bukan pada harta, jabatan atau kemewahan… tetapi pada kewajiban Kemanusiaan yang diamalkannya.
Seseorang yang bisa menjalankan amanah dan tanggung jawabnya, ia tidak saja akan mendapat kecintaan semua manusia tetapi mendapat kasih sayang dari Allah SWT. Amanah kepada diri dan keluarganya.
Dari yang terkecil hingga terbesar mengenalkan hakekat kehambaan keluarga kepada tuhannya, disitulah bagian dari amanah.
Referensi : Menjalani Hidup Dengan Hikmah, Ikhsan Nurul Huda

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: