Ampunan Allah, Sebuah Solusi Kehidupan

Ramadhan kan datang lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Semoga Allah Ta’ala kembali mempertemukan kita dengan bulan yang dinanti-nanti ini.

Berbicara tentang keutamaan bulan Ramadhan, seakan tak pernah habis. Bulan ini tampaknya memang sudah diseting untuk menjadi bulan yang dapat memberikan energi sebesar-besarnya bagi setiap muslim agar semakin mantap mengarungi kehidupan dalam bingkai ajaran Allah Ta’ala.

Karena itu, setiap kali bulan Ramadhan akan datang, pembicaraan seputar keutamaan, pengaruh dan manfaatnya, marak dibicarakan di mana-mana, bahkan dengan tema bermacam-macam. Ada yang mengaitkan pengaruh Ramadhan dengan kehidupan pribadi hingga persoalan globalisasi. Ada pula yang membahas dampaknya dari aspek sosial hingga politik dan finansial.

Akan tetapi, jika kita perhatikan hadits-hadits Rasulullah saw, sasaran riil dari Ramadhan yang kita lalui sebenarnya sederhana, meskipun dampaknya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Yaitu teraihnya ampunan dari Allah Ta’ala.

Perhatikan dua hadits Rasulullah saw tentang keutamaan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan;

 “Siapa yang puasa (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya  yang telah lalu” (Muttafaq alaih)

 “Siapa yang beribadah (shalat malam) (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq alaih)

Dari hadits ini tampak, bahwa permasalahan ampunan Allah sangat besar artinya bagi kehidupan kita. Bayangkan, ibadah puasa di siang hari Ramadhan, lalu malamnya dihiasai dengan ibadah shalat dan ibadah lainnya, balasannya adalah ampunan Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang telah lalu.

Bahkan di malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, ketika Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw, jika  menemui malam tersebut apa yang sebaiknya dibaca, Rasulullah saw berpesan kepadanya untuk membaca ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’anni’ (Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pema’af, menyukai permaafan, ma’afkanlah Aku’  (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah)

Mengapa di malam mulia yang doanya mustajah itu Rasulullah saw tidak mengajarkan kita  memohon, misalnya, hidup sejahtera dunia akhirat, atau kaum muslimin diberi kemenangan atas orang-orang kafir, atau Islam diberi kejayaan di seluruh dunia, dsb.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa perkara ampunan Allah Ta’ala adalah masalah prinsip dan mendasar bagi keselamatan hidup kita. Sebaliknya, bertumpuknya dosa dan kemaksiatan dalam kehidupan adalah sumber problematika kita yang sesungguhnya.  

Banyak ayat-ayat Allah Ta’ala dan hadits-hadits Rasulullah saw yang mengisyaratkan tentang bahaya dosa dan kemaksiatan dalam kehidupan, baik dalam kontek pribadi, keluarga, masyarakat hingga Negara. Maka dengan demikian, berbagai problematikan yang kita hadapi sekarang ini, akar solusinya dapat kita cari dari sini; Ampunan Allah Ta’ala.

Karenanya,  tingginya kuantitas dan kualitas ibadah yang terjadi di tengah masyarakat seiring masuknya bulan suci Ramadhan, hendaknya tidak hanya didasari pada keinginan untuk meraih pahala dan kebaikan sebanyak-banyaknya. Tetapi juga dimotivasi –bahkan seharusnya bobotnya lebih besar- oleh keinginan mendapatkan ampunan dosa sebesar-besarnya dari Allah Ta’ala.   

Hal ini patut menjadi perhatian. Karena ada fenomena ironis yang sering kita saksikan, dimana bertambahnya frekwensi ibadah di bulan ini, ternyata tidak mengurangi secara signifikan tingkat ‘dosa’ yang dilakukan. Lihatlah acara-acara di TV, hanya judulnya saja yang bernama ‘gebyar Ramadhan’ selebihnya adalah pamer aurat dan adegan-adegan merangsang. Lihat pula urusan-urusan birokrasi, praktek korupsi dan kolusi yang boleh jadi tak berkurang di bulan ini.

Pendekatan mengisi bulan Ramadhan seperti ini tak ubahnya sopir angkutan yang mengejar setoran dengan ngebut ugal-ugalan serta menerjang rambu-rambu lalu lintas. Akibatnya denda yang harus dia bayar bisa jadi lebih besar dari setoran yang dia dapatkan.

Hal ini pula yang telah diingatkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya,

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka tidak ada bagi nilainya di sisi Allah Ta’ala dia meninggalkan makanan dan minumannya” (Riwayat Bukhari)

Tanpa obsesi yang muluk-muluk, mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dengan bertaubat kepada-Nya dan menjauhkan maksiat sejauh-sejauhnya. Karena, dari sinilah akar solusi atas setiap problematika yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Bahkan, dari sinilah sesungguhnya barometer yang menentukan apakah kita termasuk orang yang beruntung atau merugi dengan datangnya bulan suci Ramadhan ini.

Sekali waktu, Rasulullah saw bersabda,  ‘Rugilah, rugilah, rugilah…’ ketika ditanya siapa mereka, Rasulullah saw bersabda, ‘…..Orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, namun dia tidak mendapatkan ampunan (dari dosa-dosanya)” (HR. Muslim)

sumber : Abdullah Haidir

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: