Kemerdekaan Teknologi Indonesia: Antara Do’a dan Realita

Tarhib Ramadhan sekaligus menyambut peringatan kemerdekaan RI ke 64, 14 Agustus 2009, FORMATRA, Masjid Al-Rajhi lama, Riyadh

Salah satu makna Islam diturunkan adalah untuk memerdekakan manusia dari perhambaan oleh manusia lainnya. Maka pembebasan dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT menjadi wajib untuk diperjuangkan.

Berbagai bentuk “penjajahan” secara langsung kini masih terjadi walaupun sudah banyak berkurang, seperti di Palestina yang secara langsung, maupun secara tidak langsung seperti di Afghanistan, Irak, Mindanao, Phatani, dll. Suatu bangsa dikatakan merdeka apabila ia mampu menjalankan pemerintahan terhadap bangsanya sendiri dan tidak berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Dengan demikian, kemerdekaan memiliki 2 sisi. Sisi formalnya adalah pernyataan (de jure) kemerdekaan dan sisi realitas atau kenyataan (de facto). De facto inilah yang merupakan suatu kondisi yang relatif. Bagaimana dengan bangsa kita yang secara de jure telah merebut kemerdekaannya kembali sejak 17 Agustus 1945 atau 64 tahun lalu? Seberapa jauh bangsa kita masih bergantung pada bangsa lain?

Mari kita perhatikan apa yang kita gunakan di sekeliling kita. Produk manakah? Mulai bangun pagi: sabun mandi, shampoo dan pasta gigi yang kita pakai adalah buatan Unilever atau Procter & Gambel (P&G). Keduanya adalah produk perusahaan multinasional (MNC). Kita ambil minum dari Air Minum Dalam Kemasan produk Vit tau Aqua? Sepatu yang kita pakai? Alhamdulillah, masih ada tekstil buatan Cibinong, Bandung atau Bogor. Eiit nanti dulu, mereknya sudah merek asing kah? Minyak rambut, tas, computer, meja kantor, Handphone, ….. Belanja pun di Carefour (Perancis), Hypermart (Malaysia), Alfamart (milik Alfa Group Rusia dan Sampoerna/Philip Morris Amerika). Semen rumah kita pun kini produksi Holcim (Swiss). Kapal terbang, mobil, motor, TV, kulkas, microwave, kosmetik, mainan bahkan makanan-makanan ringan …..

Seberapa besarkah kita bergantung pada barang-barang import? Grafik 1 di bawah ini mungkin dapat menerangkan sedikit kecenderungan banjirnya barang dan jasa import di tanah air.

 

Gambar 1. Neraca Eksport dan Import Indonesia dalam juta US$. (sumber www.indonesia.go.id, Portal Nasional Republik Indonesia, diakses 10 Agustus 2009).

Secara umum sebenarnya kita masih memiliki kemampuan memproduksi dan mengekspor cukup tinggi. Pada tahun 2008 ini ekonomi Indonesia bahkan tumbuh 4,5% (menurut data BPS) di tengah resesi ekonomi dunia yang masih berlanjut. Tercatat hanya China (7,5%), India (5,4%) dan Indonesia yang memiliki pertumbuhan di atas 4% (data kantor berita Antara). Nilai ekspor pertahun kita juga selalu lebih besar daripada import. Namun semakin mendekatnya selisih import-eksport pada tahun-tahun terakhir cukup mengkhawatirkan juga. Beberapa produk andalan bahkan sudah terkategori import bersih (net import) seperti minyak mentah dan bubur kertas (pulp) serta lainnya. Bahkan jika melihat data semester I 2008, kita pernah menyentuh defisit neraca perdagangan total sebesar 270 juta dolar (2,7 sumber: http://incomepasif.com, September 2008

Semua data-data di atas menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak dapat dikatakan kuat. Bahkan cenderung melemah. Kekuatan perdagangan kita hanya bila dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN yang mungkin juga pada beberapa tahun mendatang akan dapat mengalahkan neraca perdagangan antar Negara dengan Indonesia.

Menguatkan industri dengan Teknologi

Jelas sekali bahwa kuatnya industri-industri dalam suatu Negara akan berakumulasi pada kuatnya perkonomian Negara tersebut. Menurut professor Paul Krugman (MIT, Massachusetts Institute of Technology) daya saing sebuah negara dapat dicapai dari akumulasi daya saing strategis setiap perusahaan. Proses penciptaan nilai tambah (value added creation) berada pada ruang lingkup perusahaan. Jadi, dalam realitasnya yang bersaing bukan negara, tetapi perusahaan dan industri.

Menarik kiranya menengok pendapat Presiden Amerika Serikat ke 33 Harry Truman (dalam buku the Development Dictionary, Wolfgang Sachs, 1992). Ia mengatakan dalam rencana jangka panjang Amerika saat itu (20 Januari 1949) bahwa era penjajahan untuk penguasaan sumber daya alam telah berakhir. Amerika harus mengembangkan produksi yang kuat. Kunci dari kesuksesan produksi yang hebat adalah kemampuan dan penguasaan sains dan teknologi. Pendapat tersebut kini terbukti benar. Justru beberapa Negara yang memiliki sumber daya alam yang terbatas kini menjadi Negara yang maju dan makmur, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. Peran sains dan teknologi tentu tidak dapat disangsikan telah menjadi salah satu faktor dominan yang menjadikan negara-negara ini berhasil dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Pendapat senada juga diucapkan oleh Toffler (1990), Rahardi Ramelan (1995), Zuhal (2007) dan beberapa ahli lainnya, termasuk presiden SBY.

Keterlibatan Sains dan Teknologi dalam Industri Indonesia

Salah satu cara untuk mengukur keterlibatan sains dan teknologi dalam industri adalah dengan instrument Total Factor Productivity (TFP).

 

Sumber pertumbuhan ekonomi nasional masih didominasi oleh faktor-faktor selain Sains dan Teknologi. TFP IPTEK selalu hanya dibawah 4%, kecuali pada tahun 1991-1995. Kenyataan ini diperkuat dengan data OECD yang menyatakan bahwa Indonesia masih mengandalkan pada keunggulan komparatif di sektor industry manufaktur low technology , walaupun ada juga 4% high-tech manufaktur (lihat gambar presentasi). Namun hal tersebut diimbangi dengan kekalahan (disadvantage) di sisi medium-low dan medium-high technology. Artinya, industri manufaktur Indonesia masih banyak berupa rakitan saja. Sudah barang tentu hal itu sedikit banyak akan merugikan neraca perdagangan kita karena investasi yang kita lakukan (baik PMDN maupun PMA) di satu sisi meningkatkan pendapatan namun disisi lain menuntut pengeluaran dari masuknya bahan-bahan baku (import) atau input industri rakitan tersebut. Hal itu bisa dilihat salah satunya dari naiknya investasi PMA yang tidak diikuti dengan naiknya investasi PMDN (gambar 2).

 

Investasi oleh PMA dan PMDN, 2002-2008) (sumber www.indonesia.go.id, Portal Nasional Republik Indonesia, diakses 10 Agustus 2009).

Arti Kemerdekaan Teknologi

Kita sudah fahami bahwa akibat kita tidak menguasai teknologi, maka proses produksi dikuasai asing dan distribusinya menjadi hak mereka. Akibatnya kesejahteraan bangsa dan Negara menjadi sulit tercapai. Lalu bagaimana kita memerdekakan negri kita secara teknologi? Saya sengaja memakai istilah “kemerdekaan” yang memang belum banyak dipakai orang. Istilah yang lebih banyak dipakai adalah Kemandirian Teknologi. Istilah “merdeka” memiliki pengertian “tidak terikat, mampu dan bebas menentukan arah”. Sementara, “mandiri” mengesankan kemampuan untuk berjalan di atas kaki sendiri tanpa banyak menggantungkan pada pihak lain. Sederhananya begini: Singapura tidak akan merdeka secara teknologi karena ia tidak memiliki sumberdaya alam yang banyak sehingga dalam penentuan jenis teknologi yang dikembangkan ia akan masih bergantung pada komoditi sekitarnya.

Namun Indonesia memiliki potensi untuk merdeka secara teknologi karena selain dikaruniai kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, Indonesia juga memiliki pasar dalam negri yang sangat besar sehingga dalam kondisi seperti ini saja kita terbukti masih mampu untuk tumbuh dengan lebih baik. Penguasaan sains dan teknologi harus bermuara pada pengembangan industri yangkuat. Maka, yang perlu dilakukan adalah:

  1. Pilih teknologi yang memiliki basis yang kuat serta dibutuhkan oleh bangsa ini. Pilihan 6 fokus dalam JAKSTRANAS 2007 perlu dipertajam dan dikawal dengan kepemimpinan nasional yang kuat. Misal: IT, Biotek utk pangan dan farmasi, transportasi). Pelaaran yang berharga dapat dipetik dari contoh Korea Selatan, China dan Jepang. Juga Venezuela yang mengangkat teknologi perminyakan dan telekomunikasi untuk kemerdekaan teknologi nasionalnya (tnational technology sovereignity).

  2. Pengelolaan anggaran belanja Negara dan partisipasi publik/swasta secara efisien untuk Pengembangan Sumber Daya Manusia baik Skilled Labor maupun High-Tech Human Resources. Hal ini bukan berarti mengabaikan kualitas sumber daya manusia di sektor-sektor lain, termasuk jasa (keuangan, media, dll). Hanya dengan sumber daya yang berkualitas di berbagai sektor dan sinergi yang baik antara satu dan lainnya maka akan terjadi industri yang kuat. Anggaran pendidikan tinggi kita sempat naik namun terancam turun kembali tahun 2010 karena penyerapan yang kurang terencana dengan baik di tahun 2008 dan 2009.

  3. Pengelolaan anggaran belanja Negara dan partisipasi publik/swasta secara efisien untuk pengembangan industri. Tahun 1993-1997 rasio belanja untuk pengembangan industri hanya 1,8 persen dari produk domestik bruto. Persentase itu terus menurun. Tahun 2001-2004, hanya 0,8 persen dari PDB dan 2004-2009 hanya 0,9 persen. Anggaran belanja yang ramping namun dikelola dengan tepat sasaran akan mendorong berkembangan industry dalam negri.

  4. Nasionalisasi secara terstruktur dan sistematis perusahaan-perusahaan yang mengelola sumber daya alam terutama tambang dan teknologi informasi. Secara sederhana, jika kita secara teknologi mampu mengelola tambang sendiri, maka kita akan menggali dan mengolahnya di dalam negri dan untuk negri kita sendiri. Yang terjadi pada kasus Freeport, misalnya, kandungan tembaga sekaligus emas yang ada di dalam bahan tambang tersebut diolah di luar negri dan kita hanya mendapatkan hasil yang sedikit dari kegiatan ekonomi tersebut. Sementara PT Freeport yang tadinya hanyalah perusahaan yang sudah hampir bangkrut di Amerika langsung menjadi perusahaan besar yang memiliki pengaruh terhadap ekonomi dan politik US. Ketika produk tambang itu sudah menjadi milik asing, maka menjadi haknyalah untuk menjual ke negri manapun yang dikehendakinya. Belum lagi faktor kerusakan alam yang tidak dapat dinilai kerugiannya. Contoh-contoh dalam pertambangan di tanah air demikian banyaknya. Demikian pula dengan perminyakan dan gas bumi yang dieksplorasi dan diproduksi oleh perusahaan MNC. Sementara industri TI yang terus berkembang di tanah air sangat penting dan mengandung muatan informasi yang amat penting bagi ketahanan Negara.

  5. Pembenahan BUMN yang berjumlah 105, tidak semuanya buruk. Juga BUMD, agar tidak hanya menjadi sapi perahan dan hak “monopoli” yang selama ini diberikan dapat dikelola dengan baik.

  6. Jangan terlalu bergantung pada Investasi Asing Terbuka (Foreign Indirect Investment) yang dengan mudah akan hengkang bila kondisi di tanah air tidak menguntungkan. Kasus hengkangnya Sony, Reebok, Nike dll dari bumi Indonesia 1-2 dekade terakhir ini masih memberi luka yang dalam pada tingkat pengangguran di tanah air.

  7. Foreign Direct Investment (FDI) adalah salah satu ukuran kepercayaan pemodal namun juga bukan berarti jaminan aman bagi ekonomi Indonesia. FDI harus diiringi dengan SDM yang tangguh dan skillfull serta dorongan kebijakan nasional maupun lokal untuk terciptanya “lokal partnership” sehingga difusi teknologi serta kemampuan mendirikan industri akan dimiliki oleh bangsa ini secara bertahap namun pasti.

  8. Hilangkan dengan tegas hambatan untu reformasi birokrasi dan segala bentuk korupsi dan pungutan yang menghambat daya saing perusahaan. Ini tugas berat, tapi sangat berkait satu sama lain dan membentuk jaringan yang dapat melemahkan industri dalam negri maupun daya tarik investasi baik asing maupun domestik.

 

Penutup: Mampukah Kita?

Ada pertanyaan tersisa yang selalu muncul dari sebuah bangsa yang dijajah sekian lama dan masih belum memiliki pemimpin yang berkarakter kuat, yaitu: Mampukah kita?

Setelah memaparkan kondisi-kondisi kita seperti diatas, maka jawaban saya adalah: bangsa Indonesia sangat mampu, insya Allah, biidznillah. Saya tidak percaya akan bisikan setan yang mengatakan kita adalah bangsa yang lemah dan bodoh. Saya justru percaya sebaliknya. Bangsa ini bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang pernah menghajar di era penjajahan, di awal kemerdekaan dan krisis yang panjang ini. Mungkin kita lupa bahwa di tahun 1960 sebuah daerah kecil di Jawa Timur pernah memproduksi secara masal salah satu Transistor terbaik di dunia? Bangsa Indonesia pernah berhasil mendirikan industri penerbangan dalam waktu yang sangat singkat. Januari 1974 Dr.-Ing. B.J. Habibie mendarat di tanah air dan di bulan Agustus 1995 pesawat dengan desain dan rancang bangun serta produksi 100% putra-putri Indonesia mengudara. Di bidang pertanian, beberapa jenis enzim dan varitas unggulan sudah berhasil kita kembangkan.

RAsanya kita ini tidak rela melihat bangsa muslim yang besar namun selalu diombang-ambingkan dan diperas secara langsung maupun tidak langsung akibat kelemahan kita sendiri terutama dalam hal teknologi. Memang benar, kita membutuhkan pemimpin yang kuat dan visioner. Insya Allah, pemimpin seperti itu akan selalu lahir di tengah rakyat yang beriman, bertaqwa dan mau belajar serta bekerja keras mewujudkan doa-doanya.

(QS 7: 96). Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Allahu a’lamu bishshowab wallahu akbar!

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: