Human Developmen Index Terbaru

Tetap saja…. Indonesia berada pada posisi bawah dan mengalami penurunan posisi. Dalam Release yang dikeluarkan oleh UNDP Posisi Indonesia ada pada peringkat 111 (2007-2008 Indonesia pada posisi 107) masuk kategori Medium human development. Jauh di bawah posisi Malaysia (66 : kategori High Human  develompment) dan lebih jauh lagi dari Singapura (23 : very high human dev.)

Lebih lengkap silahkan lihat di http://hdr.undp.org/en/statistics

Kemiskinan menjadi alasan yang sempurna rendahnya Human Development Index (HDI), Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. Secara menyeluruh kualitas manusia Indonesia relatif masih sangat rendah, dibandingkan dengan kualitas manusia di negara-negara lain di dunia. Berdasarkan Human Development Report 2004 yang menggunakan data tahun 2002, angka Human Development Index (HDI) Indonesia adalah 0,692. Angka indeks tersebut merupakan komposit dari angka harapan hidup saat lahir sebesar 66,6 tahun, angka melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 87,9 persen, kombinasi angka partisipasi kasar jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi sebesar 65 persen, dan Pendapatan Domestik Bruto per kapita yang dihitung berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity) sebesar US$ 3.230.

Pendek kata, kemiskinan merupakan persoalan yang maha kompleks dan kronis. Karena sangat kompleks dan kronis, maka cara penanggulangan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Sejumlah variabel dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan, dan dari variabel ini dihasilkan serangkaian strategi dan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan. Dari dimensi pendidikan misalnya, pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan. Faktor kultur dan struktural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada yang salah dan keliru dengan pendekatan tersebut, tetapi dibutuhkan keterpaduan antara berbagai faktor penyebab kemiskinan yang sangat banyak dengan indikator-indikator yang jelas, sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak bersifat temporer, tetapi permanen dan berkelanjutan.

Selama tiga dekade, upaya penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan penyediaan kebutuhan dasar seperti pangan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja, pembangunan pertanian, pemberian dana bergulir melalui sistem kredit, pembangunan prasarana dan pendampingan, penyuluhan sanitasi dan sebagainya. Dari serangkaian cara dan strategi penanggulangan kemiskinan tersebut, semuanya berorentasi material, sehingga keberlanjutannya sangat tergantung pada ketersediaan anggaran dan komitmen pemerintah.

Metode pepatah lama mungkin layak dicoba untuk mengentaskan masalah kemiskinan “BERI  KAILNYA, JANGAN IKANNYA”. walaupun untuk merealisasikan pepatah itu sungguh sangat berat di lapangan.

Tetangga penulis, dengan BLT malah digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif. Sudah seyogyanya bentuk bantuan dirupakan pada upaya pemberdayaan, tentu saja ini harus ada pendampingan baik dari pemerintah maupun LSM. Tetapi yang menjadi persoalan akuntabilitas dari lembaga-lembaga tersebut yang masih banyak diragukan.

Semoga era terakhir dari Presiden SBY bisa membawa negeri ini kearah yang lebih baik. LANJUTKAN

  1. #1 by JAUHDIMATA on Oktober 29, 2009 - 5:27 am

    betul mas..
    memberi ikan itu memanjakan
    memberi kail tanpa menunjukkan cara (ilmu) menggunakannya juga percumah.
    ini menjadi tugas para penggede-penggede kita, para wakil-wakil kita untuk memikirkan bagaimana solusinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: